Saturday, 14 June 2014

Kunjungan Usaha Tenun Kain Songket




LAPORAN KUNJUNGAN USAHA
“TENUN KAIN SONGKET”
Dosen Pengampu : Umi Aniroh, S.Kep., Ns.

560645_369829666434930_1034263360_n.jpg

Oleh :
Nama   : Yeni Sartika
Prodi    : PSIK (Semester II)
NIM      : 010113a125


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN
2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Profil usaha
Nama : ibu sumini
Alamat : Dusun keloka,desa batujai ,kecamatan praya barat,NTB
Umur : 39 tahun
Agama : islam
B.       Identitas usaha
Tenun songket merupakan hasil kerajinan tangan asli Indonesia,kain songket menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Oleh karena itu banyak sekali tempat-tempat pelestarian kerajinan songket di berbagai daerah penghasil kerajinan ini di Indonesia.
“Kain Songket Ibu Sumini” merupakan salah satu tempat penghasil kain songket khas sasak dengan berbagai motif. Tempat pembuatan songket ini memang belum di berikan nama yang pasti,tetapi para warga biasa menyebutnya dengan “Kain Songket Ibu Sumini’.
C.       Sejarah usaha
Membuat kerajinan tenun songket sudah turun temurun dilakukan oleh keluarga ibu sumini. Beliau mengatakan bahwa sebelumnya beliau juga tidak bisa membuat tenun songket,karena di daerah asal beliau sudah tidak ada yang membuat tenun songket,tetapi setelah menikah,di daerah suami ibu sumini semua wanita di wajibkan untuk bisa menenun kain songket,sehinga ibu sumini pun belajar dari sang ibu mertua hingga menjadi sangat terampil seperti sekarang ini. Mulanya ibu sumini hanya membuat kain songket untuk di gunakan oleh anggota keluarga ketika ada upacara adat ataupun pernikahan,karena melihat hasil tenun ibu sumini dengan motif yang sangat bagus, kemudian salah seorang keluarga ibu sumini meminta untuk di buatkan kain songket, ibu sumini kemudian membuatkan songket untuk keluarganya tersebut tanpa berfikir untuk menjualnya,tapi keluarga ibu sumini malah membayar kain songket itu,dan mengatakan bahwa teman dari keluarga ibu sumini tersebut juga ingin di buatkan songket,begitulah kemudian kain songket buatan ibu sumini mulai terkenal dari mulut ke mulut.
D.      Lokasi
Lokasi usaha ibu sumini ini bertempat di rumah ibu sumini sendiri,yaitu di Dusun Keloka Desa Batujai Kecamatan Praya Barat,NTB. ibu sumini melakukan atau membuat kain songket di beranda depan rumahnya,disana cukup untuk menampung 4-5 pembuat kain songket.
E.       Status usaha
Usaha kain songket milik ibu sumini ini merupakan usaha milik sendiri,karena ibu sumini membuat kain songket dengan peralatan sendiri dan membeli semua bahan-bahan untuk membuat kain songket sendiri,dan pembuatannya pun dilakukan di rumah beliau.
F.        Pemilik modal
Untuk modal,ibu sumini tidak memerlukan modal yang besar untuk membuat kain songket,untuk modal awal ketika ibu sumini pertama kali membuat songket di dapat dari hasil bekerja disawah selama beberapa hari,kemudian ibu sumini bisa membeli benang dan bahan-bahan lain untuk membuat kain songket,modal pertama ibu sumini ini hanya sekitar Rp100.000, sedangkan untuk peralatan merupakan pemberian dari ibu mertua beliau.
G.      Kronologis Status usaha dan perubahan manage
Ibu sumini mulanya tidak terfikirkan untuk membuat usaha songket ini,tapi melihat banyaknya orang-orang yang memesan songketnya,ibu sumini menjadi terarik untuk menekuni usahanya ini,disamping itu kebutuhan keluarga yang mendesak juga membuat ibu sumini melihat usaha songket ini menjadi suatu usaha yang menjanjikan.
H.      Susunan pengurus
Kepengurusan usaha tenun songket ibu sumini di bantu oleh pak karim,yaitu adik ipar dari ibu sumini yang berprofesi sebagai guide. Pak karim yang nantinya akan mengurus kain-kain songket tersebut hingga sampai ke tangan para wisatawan. Ibu sumini yang mengkoordinir ibu-ibu lain untuk membuat songket sesuai dengan pesanan,kemudian akan di kirim pada pak karim untuk di jual pada para wisatawan Tapi juga terkadang ibu sumini sendiri yang mengurus  semuanya apabila songket di pesan langsung pada ibu sumini oleh para warga sekitar. Sedangkan untuk hasil penjualan maupun pengeluaran sepenuhnya di pegang dan di kelola oleh ibu sumini sendiri.
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Produksi
1.      Produksi utama
Produksi utama dari kain songket ibu sumini adalah kain songket khas asli suku sasak seperti ragi genep,pelangi,bangket,bintang,wayang,erang-erang dan lain sebagainya dengan berbagai motif dan warna yang sangat khas.
2.      Produksi sampingan
Produksi sampingan dari usaha ibu sumini ini adalah selendang songket dan kain tenun ikat atau biasa di sebut dengan sabuk. Selendang yang di buat bisa di pesan sesuai dengan songket atau menjadi pasangan songket,atau bisa juga hanya selendang saja. Kemudian untuk kain tenun ikat atau sabuk terdiri dari dua macam yaitu sabuk kedogan dan sabuk anteng. Sabuk kedogan adalah sabuk dengan warna dasar putih dengan garis-garis merah,orange,dan hijau,sabuk jenis ini biasa di gunakan oleh orang-orang dewasa. Sedangkan sabuk anteng adalah sabuk dengan warna dasar merah gelap atau merah maroon dengan garis-garis putih,hijau,dan orange,sabuk jenis ini biasa di gunakan atau di padukan dengan baju adat khas sasak yaitu lambung.

3.      Produksi perbulan
Ibu sumini bisa membuat 1-2 kain songket dalam waktu dua minggu tergantung dari mudah dan sulitnya motif kain songket yang di buat. Dengan di bantu oleh  anaknya kini ibu sumini bisa menghasilkan kain songket rata-rata 5-7 kain songket setiap bulannya.

4.      Masa produksi
bu sumini dan ibu-ibu lain  rata-rata setiap hari menenun selama enam jam,tapi apabila sedang tidak ada aktivitas lain seperti bekerja di sawah,maka mereka dapat menenun hingga delapan jam dalam sehari,yang di mulai dari jam delapan pagi sampai dengan jam lima sore.
B.        Pemasaran
1.      Pangsa pasar
Yang menjadi sasaran usaha dalam penjualan kain songket ini adalah para warga dan wisatawan,untuk para warga biasanya dapat memesan langsung dan memilih sendiri motif maupun jenis kain songket yang diinginkan. Sedangkan untuk para wisatawan biasnya kain songket akan di jual sendiri oleh ibu sumini ke agen atau ke art shop yang sering di kunjungi oleh wisatawan, dan harganya pun bias lebih tinggi.
2.      Rencana pembangunan pemasaran
Ibu sumini berencana untuk memperluas usaha kain songketnya dengan mengajak para ibu-ibu rumah tangga sekitar untuk membuat kain songket. Rencana ini diperkirakan oleh ibu sumini dapat menambah penghasilan dari usaha tenun songketnya,di samping itu juga bisa memberikan kegiatan bagi ibu-ibu rumah tangga yang biasanya hanya diam di rumah tanpa ada penghasilan. Dan rencana ini sudah di mulai ibu sumini sejak dua bulan lalu. Tiga orang ibu rumah tangga di dekat rumah ibu sumini kini juga membuat kain songket,kemudian kain songket yang mereka buat akan di jual pada ibu sumini,yang kemudian nantinya akan di beli oleh agen dengan harga yang lebih tinggi.
3.      Media atau agen
Dalam memasarkan kain songketnya ibu sumini di bantu oleh adik iparnya yang bernama Pak Karim. Pak karim adalah seorang guide yang sering membawa tourist ke dusun ibu sumini untuk memperkenalkan adat istiadat sasak di dusun tersebuat,dan para tourist sangat tertarik dengan kain songket. Biasanya pak karim akan memesan songket sekitar 1 sampai 2 bulan dalam jumlah yang banyak sebelum membawa tourist atau biasa di sebut tamu oleh ibu sumini.
C.      Kapasitas produksi
Denga adanya pak karim sebagai agen dalam pemasaran,dan ibu-ibu atau para tetangga yang membantu  dalam pembuatan songket,ibu sumini bisa menjual rata-rata 20 kain songket setiap bulannya. Kain songket ibu sumini di beri harga sesuai dengan tingkat kesulitan motif dan harga bahan-bahan yang di gunakan. Misalnya seperti songket erang-erang bisa  di hargai sekitar Rp300.000, dengan panjang kain songket sekitar empat meter. ibu sumini akan membeli kain songket dari ibu-ibu rumah tangga atau tetangganya seharga Rp270.000. harga benang yang di gunakan untuk membuat songket jenis ini biasanya lima puluh sampai dengan enam puluh lima ribu. untuk satu buah kain songket motif erang-erang ibu sumini bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp30.000 ,sehingga untuk 20 kain songket ibu sumini bisa memperoleh sekitar 600.000 setiap bulannya. Jenis kain songket yang paling mahal adalah  Keker,untuk satu buah kain songket jenis ini bisa dijual seharga p500.000,karena motif ini diaggap adalah yang paling rumit dan bahannya paling  banyak daripada jenis yang lain.
D.      Analisis prinsip-prinsip usaha
Berdasarkan dari pembahasan mengenai usha ibu sumini diatas,Prinsip-prinsip usaha yang munngkin di terapkan oleh ibu sumini adalah:
1.      Memulai suatu usaha harus di mulai dari nol
Ibu sumini benar-benar memulai usahanya dari nol,baik dari keterampilan maupun modah materi yang digunakan untuk membuat songket pertamanya.
2.      Ketekunan
Ketekunan ibu sumini dalam membuat kain songket telah membawanya sebagai seorang penenun da penjual songket yang professional,dengan kemauan dan tekad kuat ia belajar untuk embuat kain songket dari ibu mertuanya.
3.      Keterampilan sangat di butuhkan dalam berwirausaha
Tanpa adanya keterampilan,ibu sumini tidak akan bisa membuat kain songket khas sasak yang memiliki motif-motif yang bagus dan unik.  
4.      Dorongan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Sebagai seorang ibu rumah tangga ibu sumini tentu memiliki bnayak sekali kebutuhan,dari uang untuk belanja kebutuhan rumah sampai dengan uang jajan anak-anaknya. Dengan membuat kain songket  ibu sumini bisa membantu suami memenuhi kebutuhan tersebut.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Usaha kain songket merupakan suatu usaha yang tidak hanya untuk menghasilkan materi saja,tapi di samping itu juga dapat melestarikan budaya peninggalan nenek moyang. Pembuatan kain songket sudah dilakukan secara turun temurun,yang mulanya hanya di gunakan sebagai pakaian adat suku sasak saja,kini sudah bisa pula di kenal di mancanegara,dan tentunya juga memberi penghasilan bagi para pengrajinnya.
B.       Saran
1.         Pemerintah harus lebih memperhatikan kain tenun songket Lombok sebagai salah satu budaya Indonesia yang harus di lestarikan,karena selama ini pemerintah daerah maupun nasional belum memberikan modal bagi pengembangan usaha kain songket.
2.         Para pengrajin songket diharapkan untuk dapat menurunkan atau meneruskan tradisi pembuatan kain songket khas sasak ini secara turun-temurun dari generasi ke generasi agar tidak punah di telan zaman.