DUSUN
KELOKE DESA BATUJAI
Nama
saya Yeni Sartika,saya lahir di sebuah desa bernama Batujai,yang terletak di
pulau Lombok,tepatnya di Lombok tengah kecamatan Praya barat. Saya bisa mengatakan
tempat tinggal saya adalah termasuk pedesaan karena kawasan,kebudayaan,maupun
kehidupan sehari-hari warga desa masih tidak terlalu terpengaruh budaya
modern,masyaraktnya masih menjaga tradisi yang sudah ada sjak dulu,dan masih
sara dengan hukum-hukum adat dan sosial. Untuk lebih jelasnya,berikut saya
uraikan sedikit tentang desa tempat tinggal saya ini.
Di
desa batujai, saya tinggal di dusun yang bernama dusun Keloke,menurut cerita
orang-orang dan para tetua disana dusun kami di beri nama keloke yang berasal
dari kata “keluk” yg artinya “lekak” dalam bahasa Indonesia bisa diartikan
dengan berbohong atau mengakali,karena menurut cerita dulu disana banyak orang yang sering tidak
menepati janji,sering berbohong,dan banyak akal atau suka saling mengakali.
Contohnya ketika
seseorang menjual ternak,atau ketika
seseorang berhutang,cenderung akan sangat lama membayar hutang,dan
ketika ada program dari pemerintah yang datang ke dusun saya,misalnya pemberian
pupuk kepada para petani,yang akan sampai ke tangan para petani hanya sebagian
dari yang di berikan oleh pemerintah,padahal sebelumnya sudah di adakan rapat
mengenai program tersebut beserta sumbangan-sumbangan yang akan di berikan
kepada para petani.
Tapi ini
dilakukan oleh sebagian kecil atau beberapa orang yang hanya mementingkan
keuntungan untuk diri mereka sendiri,dan sikap dari segelintir orang ini
menyebabkan nama dusun tercemar,hal seperti ini mungkin tidak hanya terjadi di
dusun keloke,tapi juga di dusun lain,desa lain,atau bahkan di Negara ini. Namun
nama “keluk” ini sudah terlanjur melekat di dusun saya. Dan menurut saya nama
dusun ini unik,karena di ambil dari sifat masyarakatnya pada jaman dulu.
Dengan nama yang tidak memiliki arti yang terlalu
bagus,dusun saya tetap merupakan dusun yang aman,penduduknya ramah,semangat
gotong royongnya masih sangat kental,dan meskipun kebiasaan buruk dalam hal
berbohong tersebut masih dilakukan oleh beberapa orang,itu tidak merusak citra
dusun saya di pandangan orang luar,dan tidak membuat orang-orang dari luar
untuk enggan datang ke dusun saya,bahkan mereka terkadang senang dengan
keramahan para warganya.
Dusun di ketuai
oleh seorang kepala dusun yang di sebut Keliang,keliang bertugas sebagaimana
kepala dusun. Kemudian ada yang di sebut dengan Pekasih,pekasih adalah orang
yang di pilih oleh warga dusun sebagai penyedia aliran air bagi sawah-sawah
para warga. Para petani sangat bergantung pada Pekasih,karena Pekasih yang
mengatur jadwal kedatangan aliran air di dusun,terutama saat musim
kemarau,Pekasih akan mengatur pembagian jadwal kedatangan air sungai dengan
dusun-dusun lain,sehingga semua sawah-sawah warga dapat di aliri air. Pekasih
akan di berikan imbalan berupa hasil panen oleh masing-masing kepala keluarga
sebagai tanda terima kasih.
Mengenai mata
pencaharian,hampir semua warga desa merupakan sorang petani dan peternak,temasuk
orang tua dan keluarga besar saya merupakan seorang petani. Ternak berupa
kambing dan sapi untuk menambah pendapatan dan biaya hidup,ataupun berupa ayam
dan bebek yang biasanya dipelihara oleh masing-masing keluarga untuk di masak.
Sawah akan di Tanami dua kali dalam setahun,yaitu saat
musim hujan dan saat musim kemarau. Saat musin hujan sawah akan di Tanami padi
atau beras ketan,proses menanam padi di lakukan dengan beberapa tahapan yang
sudah di lakukan secara turun temurun,tapi di desa saya memiliki beberapa cara atau tradisi khas
dalam penanaman padi,terutama pada proses sebelum penanaman padi,seperti
tradisi Nelep dan Amut.
Nelep ,yaitu perendaman
benih padi selama 1 hari di dalam kali. Padi yang sudah di keringkan akan di
siram dengan air dalam sebuah baskom atau ember yang berisi:
1. potongan
kunyit
2. daun-dunan
yang terdiri dari daun yang di sebut daun sapah,daun janjam,dan daun bikan.
3. sedikit
nasi
4. beberapa
batu yang di dapat dari gunung rinjani
5. taring buaya yang di wariskan secara turun
temurun
6. kapas.
Kemudian semua anggota keluarga membasuh kedua
tangan di dalam baskom tersebut,setelah semua anggota keluarga selsesai
membasuh tangan,barulah air tersebut di siramkan ke dalam karung yang berisi
benih padi,karung tersebut kemudian di ikat dan di rendam dalam air kali selama
1-2 hari. Menurut kepercayaan warga dusun , Nelep di lakukan agar tanaman padi
subur dan hasil panen melimpah.
Selanjutnya
adalah Amut,Amut merupakan proses setelah Nelep. Amut di lakukan setelah padi
di angkat dari perendaman di dalam air kali slama 1 -2 hari atau Nelep. Padi
kemudian akan di tutup dengan karung atau terpal tebal yang biasa di gunakan
untuk menjemur padi. Padi akan di biarkan 2-3 hari sampai padi berkecambah dan
siap untuk di lakukan pembenihan di satu petak sawah yang telah di siapkan atau
dalam masyarakat sasak di sebut dengan Ngampar.
Sebelum penaburan benih,pemilik sawah akan membuat
anjingan. Anjingan adalah jalan mengalirnya air ke tempat pembenihan. Anjingan
di buat di bagian pinggir atau di setiap sisi tempat pembenihan agar air dapat
tersalurkan dengan rata. Pembenihan biasanya akan di lakukan selama 25 hari
hingga benih padi siap untuk di tanam.
Setelah penanaman padi atau lowong dalam bahasa
sasak,para petani akan meletakkan Sawiq. Sawiq merupakan penangkal hama yang di
percaya oleh suku sasak. Sawiq dapat berupa daun lontar,ranting pohon
keturi,ataupun jerami padi jika ada,yang kemudian di beri mantra oleh seseorang
yang di anggap bisa. Sawiq kemudian akan di letakkan di tengah-tengah sawah.
Selanjutnya proses penanaman padi akan sama seperti di
daerah lain. Namun pada saat setelah
panen,para petani akan menyimpan padi di bali taniny atau lumbung padi.
‘’bali/bale’’ adalah rumah,sedangkan ‘’taniny’’ adalah tani atau petani,jdi
bali taniny dapat di artikan sebagai rumah petani.
Tapi sekarang
sudah jarang di temukan bali taniny atau lumbung di dusun maupun di desa
saya,karena masyarakat sudah terpengaruh budaya modern,dan penggunaan bali
taniny di anggap tidak efisien,karena bentuk bali taniny yang tinggi menyulitkan
para petani untuk menaruh padi-padi mereka disana,begitupun ketika mereka akan
menjual atau menjemur padi,mereka memerlukan tenaga ekstra lagi untuk
mengeluarkan padi dari bali taniny.
Sekarang para petani lebih meilih menyimpan
padi di dalam rumah,biasanya di dalam rumah di buat satu ruangan khusus untuk
menyimpan padi,agar lebih memudahkan petani untuk menyimpan dan megeluarkan
padi saat penjemuran dan penjualan.
Saat musim panen
biasanya anak-anak akan membuat mainan berupa sejenis peluit yang terbuat dari
batang padi yang di sebut dengan ‘’Kendule’’. Kendule di buat dengan cara
memotong batang padi kira-kira 10 cm,yang di satu sisi bagian yang berlubang
dan sisi lainnya tertutup,kemudian di buatkan garis lubang pada bagian tengah
batang padi sebagai penyaring udara agar suara kendule terdengar merdu.
Biasanya anak-anak akan menyanyikan sebuah lagu pendek yang di anggap sebagai
mantra sambil memasukkan ujung jerami pohon padi ke dalam kendule,lagu ini di
percaya dapat membuat suara kendule lebih besar dan merdu. Lagu tersebut
berbunyi:
“ojok ule-ule
tejojok sik kendule,
Ojok epeng-epeng
tejojok isik kepeng’,
Ojok ari-ari
tejojok isik pari’’.
Lalu lubang
kendule di tiup sebanyak dua sampai tiga kali,kendule pun siap untuk di
mainkan. Selain permainan,ada juga makanan khas yang sering di buat oleh
warga,makanan tersebut di namakan ‘’Ulam’’,ulam di buat dari beras ketan yang
msih setengah matang atau belum siap panen. Kira-kira satu ikat beras ketan
akan di petik kemudian di tumbuk. Setelah di tumbuk dan di bersihkan,ketan
kemudian di sangrai hingga matang,lalu di beri parutan kelapa dan garam. Ulam
memiliki rasa yang sangat nikmat dan bau yang harum dari beras ketan yang di sangrai.
Ketika musim
kemarau,sawah akan di Tanami kedelai,karena kedelai adalah tanaman yang tidak
memerlukan banyak air. Rumput untuk makanan sapi dan kambing pun akan sangat
sulit di dapat,sehingga warga yang memiliki hewan ternak akan beramai-ramai
untuk ‘’ Ngendon’’. Ngendon yaitu
mencari rumput ke sawah di dusun atau desa lain,begitupun dengan desa lain akan mecari rumput ke desa kami.
Di desa
saya,semua pematang sawah di Tanami dengan keturi,rumput,dan sayur-sayuran.
Sehingga untuk kebutuhan sehari-hari dalam memasak,para ibu rumah tangga lebih
sering memetik sayur-sayuran yang mereka tanam di pematang sawah. Seperti daun
singkong,kangkung,terong,kacang panjang,daun dan bunga keturi,dan lain
sebagainya. Selain sayur yang di petik secara langsung masih segar,memetik
sayur dari sawah sendiri juga lebih menghemat pengeluaran uang belanja.
Pohon keturi dan
rumput,terutama rumput gajah seolah wajib di Tanami oleh semua petani,karena
kedua jenis tanaman tersebut merupakan makanan pokok bagi hewan ternak
mereka,terutama yang berternak sapi dan kambing.
Selain sebagai
pakan hewan ternak,rumput gajah juga merupakan sarang atau tempat hinggapnya
belalang yang biasa di konsumsi sebagai lauk pauk yang lezat bagi para warga.
Ketika malam hari tiba,salah satu atu beberapa orang dari anggota keluarga akan
keluar untuk mencari belalang,dalam masyarakat sasak di sebut dengan ‘’sulu
balang’’. Peralatan yang di gunakan adalah botol plastic dan alat penerang
seperti lampu senter dan lampu minyak.
Kegiatan ini
rutin di lakukan warga setiap selesai ‘’nuwung’’ atau menanam padi,karena pada
saat itu merupakan musim penghujan yang menjadi musim menetasnya belalang yang
juga sebagai hama bagi padi yang baru ditanam. Jika belalang sedang banyak,maka
setiap orang bisa mendapatkan belalang satu sampai dua botol plastic tanggung.
Belalang akan di masak keesokan harinnya,belalang dapat di masak dengan cara di
goreng maupun di masak sayur asam,dan di jadikan camilan sebagai teman minum
kopi oleh para bapak-bapak. Rasanya yang gurih dan renyah membuat warga senang
mengkonsumsi belalang.
Serangga atau
hewan lain yang juga bisa di dapat dari rumput gajah adalah walang sangit,yang
dalam bahasa sasakdi sebut dengan ‘’kenango’’,tetapi bedanya dengan belalang
walang sangit di cari di siang hari,dan hanya bisa di masak dengan cara di buat
atau di campur dengan sambal terasi. Tapi hanya segelintir orang yang menyukai
walang sangit karena baunya yang sangat menyengat.
Dalam kehidupan
bermasyarakat,warga sangat mengutamakan gotong royong dan sagat peduli terhadap
warga lainnya. Contoh kecil misalnnya,ketika seorang warga menjemur padi,kemudian
hujan akan segera turun,maka para tetangga akan berdatangan untuk membantu memasukkan
padi ke dalam karung.
Sikap peduli dan
selalu berbagi juga di tunjukkan dengan cara ketika seseorang tetangga
kehabisan beras,maka warga tidak akan sungkan untuk berbagi. Dan juga akan
lebih mudah untuk para warga saling memberi ketimbang menjual. Misalnya ketika
pohon jambu berbuah di rumah seorang warga,maka siapapun boleh memetiknnya
tanpa harus takut untuk di marahi sang pemilik pohon.
Kemudian ketika
seseorang sakit,hampir semua warga akan datang untuk menjenguk,terutama jika ia
di rawat di rumah sakit,warga akan berbondong-bondong datang menjenguk dengan
mobil pick up. Mungkin bagi masyarakat perkotaan ini di anggap kampungan,tapi
ini merupakan cara warga desa menunjukkan sikap pedulinya terhadap sesama.
Kebiasaan lain
yang sering di lakukan oleh warga desa adalah pergi berziarah ke tempat dimana
dulu seorang anak di Aqiqah,warga desa selalu meng-Aqiqah anaknya di makam para
tuan guru atu di makam-makam lain yang di anggap keramat atau yang di jadikan
tempat ziarah,misalnya makam batu layar,makam loang baloq,makan tuan guru
nyatoq,ketaq,dan lain sebagainya.
Keluarga yang
menggelar acara ziarah akan memasak berbagai makanan yang lezat untuk di bawa
ke makam,disana para warga yang ikut akan berdo’a kemudian makan bersama.
Kegiatan ini biasanya di lakukan oleh keluarga yang mampu,dan di lakukan setiap
selesai panen,sebelum pergi haji,atau ketika ingin di permudahkan jalan dalam
melakukan sesuatu.
Dalam kehidupan
warga desa juga ada tradisi yang di sebut ‘’Peraq api’’,tradisi ini di lakukan
untuk bayi baru lahir yang akan di berikan nama,dan di lakukan dua hari stelah
bayi lahir. Orang tua si bayi akan mempersiapkan dua nama terbaik untuk bayi
yang di tulis dalam dua gulungan kertas putih kecil,kedua gulungan kertas
tersebut kemudian di letakkan di genggaman sang bayi,kertas mana yang lebih
dulu di jatuhkan oleh bayi,maka itulah yang akan menjadi namanya. Tapi
sewaktu-waktu nama bayi yang di pilih dapat di ubah jika nama bayi di anggap
tidak cocok,misalnya bayi sakit-sakitan setelah pemberian nama,mka nama
tersebut di anggap tidak cocok bagi sang bayi.
Dalam tradisi
Peraq api juga akan di buat makanan khusus yang di sebut ‘’mutu siung’’.
‘’Mutu’’ artinya beras,dan ‘’Siung’’ berarti goreng.
Mutu suing
terbuat dari beras ketan yang di goreng,kemudian di bubuhi air hangat agar
beras tidak keras. Setelah beras agak melunak,kemudian di taburi gula merah dan
kelapa parut. Setelah itu mutu suing akan di bungkus dengan daun waru kemudian di
bagikan ke semua warga dan anggota keluarga.
Selain tradisi
khusus pada Aqiqah dan pemberian nama,tradisi khusus juga di lakukan pada saat
khitanan. Keluarga yang akan meng-khitan anaknya akan menggelar acara begawe
seperti pada acra pernikahan,orang tua
si anak akan menyewa ‘’Gendang Beleq’’,yaitu alat music tradisional sasak,dan
‘’Jaran kamput’’,yaitu kuda yang terbuat dari kayu yang di iringi music khas,
di gunakan sebagai tandu untuk mengarak anak yang akan dikhitan.
Acara akan
berlangsung seharian,dan ketika menjelang petang hari barulah si anak akan di
khitan. Si anak akan di pakaikan kain songket sebagai penutu tubuhnya da di
gendong oleh bapak atu pamannya,ketika mantri atau tukang sunat meng-khitan
semua alat music gendang beleq dan jaran kamput akan di mainkan
sekeras-kerasnya,sehingga suara anak yang menagis kesakitan tidak terdengar.
Dari uraian
cerita di atas dapat saya simpulkan bahwa tempat tinggal saya merupakan
pedesaan asli,yang adat istiadat dan tradisinya masih sangat kental dan terpelihara,dan
belum terlalu terpengaruh oleh budaya hidup masyarakat perkotaan. Baik orang
tua maupun anak muda di desa saya tetap mempertahankan setiap tradisi yang di
ajarkan turun temurun oleh para leluhur desa,dan akan terus di lestarikan oleh
generasi-generasi muda selanjutnya.

No comments:
Post a Comment