Thursday, 14 November 2013

UTS mata kulyah ILMU SOSIAL DASAR


DUSUN KELOKE DESA BATUJAI
Nama saya Yeni Sartika,saya lahir di sebuah desa bernama Batujai,yang terletak di pulau Lombok,tepatnya di Lombok tengah kecamatan Praya barat. Saya bisa mengatakan tempat tinggal saya adalah termasuk pedesaan karena kawasan,kebudayaan,maupun kehidupan sehari-hari warga desa masih tidak terlalu terpengaruh budaya modern,masyaraktnya masih menjaga tradisi yang sudah ada sjak dulu,dan masih sara dengan hukum-hukum adat dan sosial. Untuk lebih jelasnya,berikut saya uraikan sedikit tentang desa tempat tinggal saya ini.
Di desa batujai, saya tinggal di dusun yang bernama dusun Keloke,menurut cerita orang-orang dan para tetua disana dusun kami di beri nama keloke yang berasal dari kata “keluk” yg artinya “lekak” dalam bahasa Indonesia bisa diartikan dengan berbohong atau mengakali,karena menurut cerita  dulu disana banyak orang yang sering tidak menepati janji,sering berbohong,dan banyak akal atau suka saling mengakali.
Contohnya ketika seseorang menjual ternak,atau ketika  seseorang berhutang,cenderung akan sangat lama membayar hutang,dan ketika ada program dari pemerintah yang datang ke dusun saya,misalnya pemberian pupuk kepada para petani,yang akan sampai ke tangan para petani hanya sebagian dari yang di berikan oleh pemerintah,padahal sebelumnya sudah di adakan rapat mengenai program tersebut beserta sumbangan-sumbangan yang akan di berikan kepada para petani.      
Tapi ini dilakukan oleh sebagian kecil atau beberapa orang yang hanya mementingkan keuntungan untuk diri mereka sendiri,dan sikap dari segelintir orang ini menyebabkan nama dusun tercemar,hal seperti ini mungkin tidak hanya terjadi di dusun keloke,tapi juga di dusun lain,desa lain,atau bahkan di Negara ini. Namun nama “keluk” ini sudah terlanjur melekat di dusun saya. Dan menurut saya nama dusun ini unik,karena di ambil dari sifat masyarakatnya pada jaman dulu.
            Dengan nama yang tidak memiliki arti yang terlalu bagus,dusun saya tetap merupakan dusun yang aman,penduduknya ramah,semangat gotong royongnya masih sangat kental,dan meskipun kebiasaan buruk dalam hal berbohong tersebut masih dilakukan oleh beberapa orang,itu tidak merusak citra dusun saya di pandangan orang luar,dan tidak membuat orang-orang dari luar untuk enggan datang ke dusun saya,bahkan mereka terkadang senang dengan keramahan para warganya.
Dusun di ketuai oleh seorang kepala dusun yang di sebut Keliang,keliang bertugas sebagaimana kepala dusun. Kemudian ada yang di sebut dengan Pekasih,pekasih adalah orang yang di pilih oleh warga dusun sebagai penyedia aliran air bagi sawah-sawah para warga. Para petani sangat bergantung pada Pekasih,karena Pekasih yang mengatur jadwal kedatangan aliran air di dusun,terutama saat musim kemarau,Pekasih akan mengatur pembagian jadwal kedatangan air sungai dengan dusun-dusun lain,sehingga semua sawah-sawah warga dapat di aliri air. Pekasih akan di berikan imbalan berupa hasil panen oleh masing-masing kepala keluarga sebagai tanda terima kasih.
Mengenai mata pencaharian,hampir semua warga desa merupakan sorang petani dan peternak,temasuk orang tua dan keluarga besar saya merupakan seorang petani. Ternak berupa kambing dan sapi untuk menambah pendapatan dan biaya hidup,ataupun berupa ayam dan bebek yang biasanya dipelihara oleh masing-masing keluarga untuk di masak.
            Sawah akan di Tanami dua kali dalam setahun,yaitu saat musim hujan dan saat musim kemarau. Saat musin hujan sawah akan di Tanami padi atau beras ketan,proses menanam padi di lakukan dengan beberapa tahapan yang sudah di lakukan secara turun temurun,tapi di desa  saya memiliki beberapa cara atau tradisi khas dalam penanaman padi,terutama pada proses sebelum penanaman padi,seperti tradisi Nelep dan Amut.
Nelep ,yaitu perendaman benih padi selama 1 hari di dalam kali. Padi yang sudah di keringkan akan di siram dengan air dalam sebuah baskom atau ember yang berisi:
1.      potongan kunyit
2.      daun-dunan yang terdiri dari daun yang di sebut daun sapah,daun janjam,dan daun bikan.
3.      sedikit nasi
4.      beberapa batu yang di dapat dari gunung rinjani
5.       taring buaya yang di wariskan secara turun temurun
6.      kapas.
 Kemudian semua anggota keluarga membasuh kedua tangan di dalam baskom tersebut,setelah semua anggota keluarga selsesai membasuh tangan,barulah air tersebut di siramkan ke dalam karung yang berisi benih padi,karung tersebut kemudian di ikat dan di rendam dalam air kali selama 1-2 hari. Menurut kepercayaan warga dusun , Nelep di lakukan agar tanaman padi subur dan hasil panen melimpah.
Selanjutnya adalah Amut,Amut merupakan proses setelah Nelep. Amut di lakukan setelah padi di angkat dari perendaman di dalam air kali slama 1 -2 hari atau Nelep. Padi kemudian akan di tutup dengan karung atau terpal tebal yang biasa di gunakan untuk menjemur padi. Padi akan di biarkan 2-3 hari sampai padi berkecambah dan siap untuk di lakukan pembenihan di satu petak sawah yang telah di siapkan atau dalam masyarakat sasak di sebut dengan Ngampar.
            Sebelum penaburan benih,pemilik sawah akan membuat anjingan. Anjingan adalah jalan mengalirnya air ke tempat pembenihan. Anjingan di buat di bagian pinggir atau di setiap sisi tempat pembenihan agar air dapat tersalurkan dengan rata. Pembenihan biasanya akan di lakukan selama 25 hari hingga benih padi siap untuk di tanam.
            Setelah penanaman padi atau lowong dalam bahasa sasak,para petani akan meletakkan Sawiq. Sawiq merupakan penangkal hama yang di percaya oleh suku sasak. Sawiq dapat berupa daun lontar,ranting pohon keturi,ataupun jerami padi jika ada,yang kemudian di beri mantra oleh seseorang yang di anggap bisa. Sawiq kemudian akan di letakkan di tengah-tengah sawah.
            Selanjutnya proses penanaman padi akan sama seperti di daerah  lain. Namun pada saat setelah panen,para petani akan menyimpan padi di bali taniny atau lumbung padi. ‘’bali/bale’’ adalah rumah,sedangkan ‘’taniny’’ adalah tani atau petani,jdi bali taniny dapat di artikan sebagai rumah petani.
Tapi sekarang sudah jarang di temukan bali taniny atau lumbung di dusun maupun di desa saya,karena masyarakat sudah terpengaruh budaya modern,dan penggunaan bali taniny di anggap tidak efisien,karena bentuk bali taniny yang tinggi menyulitkan para petani untuk menaruh padi-padi mereka disana,begitupun ketika mereka akan menjual atau menjemur padi,mereka memerlukan tenaga ekstra lagi untuk mengeluarkan padi dari bali taniny.
 Sekarang para petani lebih meilih menyimpan padi di dalam rumah,biasanya di dalam rumah di buat satu ruangan khusus untuk menyimpan padi,agar lebih memudahkan petani untuk menyimpan dan megeluarkan padi saat penjemuran dan penjualan.
Saat musim panen biasanya anak-anak akan membuat mainan berupa sejenis peluit yang terbuat dari batang padi yang di sebut dengan ‘’Kendule’’. Kendule di buat dengan cara memotong batang padi kira-kira 10 cm,yang di satu sisi bagian yang berlubang dan sisi lainnya tertutup,kemudian di buatkan garis lubang pada bagian tengah batang padi sebagai penyaring udara agar suara kendule terdengar merdu. Biasanya anak-anak akan menyanyikan sebuah lagu pendek yang di anggap sebagai mantra sambil memasukkan ujung jerami pohon padi ke dalam kendule,lagu ini di percaya dapat membuat suara kendule lebih besar dan merdu. Lagu tersebut berbunyi:
“ojok ule-ule tejojok sik kendule,
Ojok epeng-epeng tejojok isik kepeng’,
Ojok ari-ari tejojok isik pari’’.
Lalu lubang kendule di tiup sebanyak dua sampai tiga kali,kendule pun siap untuk di mainkan. Selain permainan,ada juga makanan khas yang sering di buat oleh warga,makanan tersebut di namakan ‘’Ulam’’,ulam di buat dari beras ketan yang msih setengah matang atau belum siap panen. Kira-kira satu ikat beras ketan akan di petik kemudian di tumbuk. Setelah di tumbuk dan di bersihkan,ketan kemudian di sangrai hingga matang,lalu di beri parutan kelapa dan garam. Ulam memiliki rasa yang sangat nikmat dan bau yang harum dari beras ketan  yang di sangrai.
Ketika musim kemarau,sawah akan di Tanami kedelai,karena kedelai adalah tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Rumput untuk makanan sapi dan kambing pun akan sangat sulit di dapat,sehingga warga yang memiliki hewan ternak akan beramai-ramai untuk ‘’ Ngendon’’. Ngendon yaitu  mencari rumput ke sawah di dusun atau desa  lain,begitupun dengan desa  lain akan mecari rumput ke desa kami.
Di desa saya,semua pematang sawah di Tanami dengan keturi,rumput,dan sayur-sayuran. Sehingga untuk kebutuhan sehari-hari dalam memasak,para ibu rumah tangga lebih sering memetik sayur-sayuran yang mereka tanam di pematang sawah. Seperti daun singkong,kangkung,terong,kacang panjang,daun dan bunga keturi,dan lain sebagainya. Selain sayur yang di petik secara langsung masih segar,memetik sayur dari sawah sendiri juga lebih menghemat pengeluaran uang belanja.
Pohon keturi dan rumput,terutama rumput gajah seolah wajib di Tanami oleh semua petani,karena kedua jenis tanaman tersebut merupakan makanan pokok bagi hewan ternak mereka,terutama yang berternak sapi dan kambing.
Selain sebagai pakan hewan ternak,rumput gajah juga merupakan sarang atau tempat hinggapnya belalang yang biasa di konsumsi sebagai lauk pauk yang lezat bagi para warga. Ketika malam hari tiba,salah satu atu beberapa orang dari anggota keluarga akan keluar untuk mencari belalang,dalam masyarakat sasak di sebut dengan ‘’sulu balang’’. Peralatan yang di gunakan adalah botol plastic dan alat penerang seperti lampu senter dan lampu minyak.
Kegiatan ini rutin di lakukan warga setiap selesai ‘’nuwung’’ atau menanam padi,karena pada saat itu merupakan musim penghujan yang menjadi musim menetasnya belalang yang juga sebagai hama bagi padi yang baru ditanam. Jika belalang sedang banyak,maka setiap orang bisa mendapatkan belalang satu sampai dua botol plastic tanggung. Belalang akan di masak keesokan harinnya,belalang dapat di masak dengan cara di goreng maupun di masak sayur asam,dan di jadikan camilan sebagai teman minum kopi oleh para bapak-bapak. Rasanya yang gurih dan renyah membuat warga senang mengkonsumsi belalang.
Serangga atau hewan lain yang juga bisa di dapat dari rumput gajah adalah walang sangit,yang dalam bahasa sasakdi sebut dengan ‘’kenango’’,tetapi bedanya dengan belalang walang sangit di cari di siang hari,dan hanya bisa di masak dengan cara di buat atau di campur dengan sambal terasi. Tapi hanya segelintir orang yang menyukai walang sangit karena baunya yang sangat menyengat.
Dalam kehidupan bermasyarakat,warga sangat mengutamakan gotong royong dan sagat peduli terhadap warga lainnya. Contoh kecil misalnnya,ketika seorang warga menjemur padi,kemudian hujan akan segera turun,maka para tetangga akan berdatangan untuk membantu memasukkan padi ke dalam karung.
Sikap peduli dan selalu berbagi juga di tunjukkan dengan cara ketika seseorang tetangga kehabisan beras,maka warga tidak akan sungkan untuk berbagi. Dan juga akan lebih mudah untuk para warga saling memberi ketimbang menjual. Misalnya ketika pohon jambu berbuah di rumah seorang warga,maka siapapun boleh memetiknnya tanpa harus takut untuk di marahi sang pemilik pohon.
Kemudian ketika seseorang sakit,hampir semua warga akan datang untuk menjenguk,terutama jika ia di rawat di rumah sakit,warga akan berbondong-bondong datang menjenguk dengan mobil pick up. Mungkin bagi masyarakat perkotaan ini di anggap kampungan,tapi ini merupakan cara warga desa menunjukkan sikap pedulinya terhadap sesama.
Kebiasaan lain yang sering di lakukan oleh warga desa adalah pergi berziarah ke tempat dimana dulu seorang anak di Aqiqah,warga desa selalu meng-Aqiqah anaknya di makam para tuan guru atu di makam-makam lain yang di anggap keramat atau yang di jadikan tempat ziarah,misalnya makam batu layar,makam loang baloq,makan tuan guru nyatoq,ketaq,dan lain sebagainya.
Keluarga yang menggelar acara ziarah akan memasak berbagai makanan yang lezat untuk di bawa ke makam,disana para warga yang ikut akan berdo’a kemudian makan bersama. Kegiatan ini biasanya di lakukan oleh keluarga yang mampu,dan di lakukan setiap selesai panen,sebelum pergi haji,atau ketika ingin di permudahkan jalan dalam melakukan sesuatu.
Dalam kehidupan warga desa juga ada tradisi yang di sebut ‘’Peraq api’’,tradisi ini di lakukan untuk bayi baru lahir yang akan di berikan nama,dan di lakukan dua hari stelah bayi lahir. Orang tua si bayi akan mempersiapkan dua nama terbaik untuk bayi yang di tulis dalam dua gulungan kertas putih kecil,kedua gulungan kertas tersebut kemudian di letakkan di genggaman sang bayi,kertas mana yang lebih dulu di jatuhkan oleh bayi,maka itulah yang akan menjadi namanya. Tapi sewaktu-waktu nama bayi yang di pilih dapat di ubah jika nama bayi di anggap tidak cocok,misalnya bayi sakit-sakitan setelah pemberian nama,mka nama tersebut di anggap tidak cocok bagi sang bayi.
Dalam tradisi Peraq api juga akan di buat makanan khusus yang di sebut ‘’mutu siung’’. ‘’Mutu’’ artinya beras,dan ‘’Siung’’ berarti goreng.
Mutu suing terbuat dari beras ketan yang di goreng,kemudian di bubuhi air hangat agar beras tidak keras. Setelah beras agak melunak,kemudian di taburi gula merah dan kelapa parut. Setelah itu mutu suing akan di bungkus dengan daun waru kemudian di bagikan ke semua warga dan anggota keluarga.
Selain tradisi khusus pada Aqiqah dan pemberian nama,tradisi khusus juga di lakukan pada saat khitanan. Keluarga yang akan meng-khitan anaknya akan menggelar acara begawe seperti pada  acra pernikahan,orang tua si anak akan menyewa ‘’Gendang Beleq’’,yaitu alat music tradisional sasak,dan ‘’Jaran kamput’’,yaitu kuda yang terbuat dari kayu yang di iringi music khas, di gunakan sebagai tandu untuk mengarak anak yang akan dikhitan.
Acara akan berlangsung seharian,dan ketika menjelang petang hari barulah si anak akan di khitan. Si anak akan di pakaikan kain songket sebagai penutu tubuhnya da di gendong oleh bapak atu pamannya,ketika mantri atau tukang sunat meng-khitan semua alat music gendang beleq dan jaran kamput akan di mainkan sekeras-kerasnya,sehingga suara anak yang menagis kesakitan tidak terdengar.
Dari uraian cerita di atas dapat saya simpulkan bahwa tempat tinggal saya merupakan pedesaan asli,yang adat istiadat dan tradisinya masih sangat kental dan terpelihara,dan belum terlalu terpengaruh oleh budaya hidup masyarakat perkotaan. Baik orang tua maupun anak muda di desa saya tetap mempertahankan setiap tradisi yang di ajarkan turun temurun oleh para leluhur desa,dan akan terus di lestarikan oleh generasi-generasi muda selanjutnya.

                                 ''MATUR TAMPIASIH SEMETON JARI SENAMEAN''
  “ :-)''



No comments:

Post a Comment