Monday, 16 December 2013

INTERVENSI PSIKOLOGIS

INTERVENSI DALAM PSIKOLOGI KLINIS


A.          DEFINISI INTERVENSI
a.  Intervensi adalah upaya untuk mengubah perilaku, pikiran, atau perasaan seseorang (Markam, 2003). dapat dilakukan oleh profesional/ terapis bidang lain (tidak harus  psikolog) à misal: iklan.
b.  Intervensi klinis merupakan suatu kegiatan yang dilakukan klinisi untuk mengubah perilaku atau keadaan sosial dengan sengaja sesuai tujuan yang dikehendaki (Nietzel, 1998). Bentuk intervensi klinis: psikoterapi, rehabilitasi psikososial, & preventif.
Istilah intervensi secara umum adalah upaya untuk merubah perilaku, pikiran dan perasaan seseorang. Intervensi tidak hanya dilakukan oleh psikolog dan dapat digunakan dalam berbagai bidang. Salah satu intervensi dalam konteks hubungan professional antara psikolog dan pasien adalah psikoterapi. Makalah ini akan membahas gambaran umum mengenai definsi psikoterapi, tujuan psikoterapi, bentuk-bentuk psikoterapi, dan penegakan dalam psikoterapi.

B.         BENTUK INTERVENSI KLINIS
1.                 REHABILITASI PSIKOSOSIAL
a.       Alternatif intervensi yang berusaha memberikan informasi bagi keluarga/ pasien mengenai masalah/ gangguan yang dialami; membantu pasien memahami, mengurangi/ mencegah munculnya masalah terkait dengan situasi sosial;  atau membantu pasien menormalkan/ mengoptimalkan kembali kualitas hidup mereka terutam di lingkungan sosial.
b.      Contoh rehabilitasi psikososial:
Melatihkan coping stress pada mantan pecandu narkoba; terapi okupasi pada penderita skizofrenia residual; melatihkan pada keluarga penderita skizofrenia mengenali simtom psikotik.

 2.       INTERVENSI PREVENTIF
Caplan (1964), membagi level (3) pencegahan pada masalah kesehatan mental:
a.     Pencegahan Tersier
Usaha mencegah konsekuensi jangka panjang ataupun jangka pendek dari keparahan gangguan yang dialami penderita. Rehabilitasi psikososial à salah satu contohnya.
b.     Pencegahan Sekunder
Usaha pencegahan pada kelompok individu beresiko (high risk population). Level ini akan efektif apabila: menangani faktor pengetahuan pada kelompok resiko tertinggi pada gangguan secara spesifik; penanganan pada kelompok beresiko yang paling mudah dijangkau.
Tujuan: memberikan pengetahuan kepada kelompok beresiko, screening awal, imunisasi/ vaksinasi.
Misal: pembinaan reproduksi sehat pada calon TKW, imunisasi polio pada balita.
c.      Pencegahan Primer
Usaha yang dilakukan untuk mengurangi/ membatasi laju timbulnya gangguan dengan melakukan modifikasi lingkungan atau memperkuat individu agar terhindar menjadi resiko tinggi. Subjeknya komunitas umum.
Tujuan:  Melawan faktor resiko (counteracting risk facto
Memperkuat faktor pengaman (reinforcing protective factor)
Misal: Konseling pra-nikah, penyuluhan anti-flu burung. (Coie, dkk, 1993).
Lima metode dalam level pencegahan primer :
1)      Meningkatkan kelekatan yang aman & mengurangi kekerasan dalam rumah tangga.
2)      Mengajarkan keterampilan kognitif & sosial.
3)      Merubah lingkungan menjadi lebih mendukung berkembangnya perilaku adaptif.
4)      Meningkatkan keterampilan dalam mengelola stres
5)      Mempromosikan pemberdayaan kelompok masyarakat, dengan membantu masyarakat mengendalikan & mengurangi resiko berkembangnya gangguan mental (perubahan sosial)
Misal: mengatasi kemiskinan, mengatasi bayi lahir dengan cacat fisik, memberikan kesempatan yang sama bagi etnis minoritas.

3.       PSIKOTERAPI
Psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan (treatmen) terhadap permasalahan yang sifatnya emosional, dimana seorang terapis secara sengaja membina hubungan profesional dengan klien, dengan tujuan menghilangkan, mengubah, atau memperlambat simtom untuk menghilangkan pola perilaku terganggu, serta meningkatkan perkembangan pribadi ke arah yang positif (Frank, dalam Nietzel, 1998).
A.    Definisi Psikoterapi
Menurut Prawitasari (2002) Psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan,
Definisi lain disampaikan oleh Wohlberg (1967 dalam phares dan trull, 2001)
Psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau treatment terhadap masalah
yang sifatnya emosional, dimana seseorang yang terlatih secara sengaja membina
hubungan professional dengan seorang klien dengan tujuan
menghilangkan,mengubah atau memperlambat symptom untuk mengantarai pola
perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
pribadi yang positif.


B.     Tujuan Psikoterapi
Tujuan umum suatu  aktifitas psikoterapi adalah untuk melakukan perubahan positif terhadap klien atas gangguan yang dialaminya. Tujuan psikoterapi dari berbagai pendekatan, menurut Ivey, dkk (1987) dan Corey (1989)Piskoterapi Psikodinamika menurut Ivey membuat suatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Merekonstruksi kepribadian terhadap kejadian masa lalu dan menyusun kepribadian yang baru melalui konflik.
1.      Psikoterapi Rogerian menurut Corey klien dapat mengekplorasi diri dengan stimulus rasa aman dan bebas sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya terhambat
2.      Eksistensialis Humanistic menurut  Corey adalah membantu seseorang untuk mengetahui kebebasannya dan menyadari kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki untuk merangsang mereka terhadap kejadian-kejadian yang terjadi pada mereka sebelumnya.
3.      Behavioristik menurut Ivey upaya untuk menghilangkan kesalahan dalam berperilaku dan menggantinya dengan perilaku yang lebih sesuai.
4.      Gestalt menurut Ivey bertujuan agar seseorang lebih menyadari kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap arah kehidupan seseorang.
5.      Terapi Realitas menurut Corey membantu  seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhannya serta mampu untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakannya berhasil


C.     Bentuk Psikoterapi

Model – model terapi berdasarkan subyek
1.      Terapi kelompok, menentukan pentingnya hubungan interpersonal dan asumsi bahwa ketidakmampuan individu dalam menyesuaikan diri, faktor-faktor yang ada dalam terapi kelompok: sharing informasi baru, membangkitkan harapan, universalisme, altruism, belajar secara interpersonal, recapitulation of the primary family, kohesivitas kelompok
2.      Terapi perkawinan, memfokuskan pada hubungan interpersonal yang dialami oleh suami istri.
3.      Terapi keluarga, diikuti oleh semua anggota keluarga dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi keluarga itu sendiri dan fungsi individual angaota-anggotanya, meliputi prinsip:
a.       Cicural causality, situasi berhubungan dan tergantung satu sama lain
b.      Ekologi, system hanya dapat dipahami sebagai pola yang terintegrasi, bukan bagian-bagian dari komponen.
c.       Subyektifitas, tidak ada pandangan yang obyektifitas atas situasi, hanya persepsi subyektif yang disaring oleh pengalaman individu
                        Berdasarkan fungsinya:
a.       Prevensi, usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan, missal : konseling perkawinan, relaksasi untuk kelompok yang mudah stress
b.      Kurasi, usaha yang dilakukan untuk tujuan penyembuhan, missal : terapi untuk orang yang mengalami phobia.
c.       Promosi, usaha yang diberikan untuk meningkatkan kondisi yang mungkin sudah baik, missal : penerapan HBM

D.    Rangkaian Intervensi
Rangkaian perjalan terapi oleh Hokanson (phares dan trull, 2001):
1.      Pertemuan awal, tahap yang menentukan kelancaran dan keberhasilan tahap selanjutnya. Menjelaskan secara umum keberadaan terapi dan jenis bantuan yang diberikan.
2.      Asesmen, prosedur asesmen dipilih berdasarkan sifat dari problem klien, orientasi dari terapis atau faktor-faktor lain. Pengumpulan informasi klien dapat diambil melalui pemberian berbagai macam tes psikologi.
3.      Tujuan treatmen, klien dan terapis mulai mendiskusikan masalah dengan sistematis dan melakukan apa yang diperoleh dari masalah-masalah yang telah terdata asesemennya.
4.      Implementasi treatment, dalam hal ini terapis memutusakan bentuk terapi secara khusus, yang diharapkan klien mulai dipercayakan dapat menghadapi problem secara independen.
5.      Terminasi, evaluasi, dan tindak lanjut,  terapi mengumpulkan data dan membuat catatan tentang kemajuan klien untuk mengevaluasi usaha dan pelayanan mereka.

E.     Pendekatan dalam Psikiterapi
 Psikoterapi kontemporer telah semakin berkembang dengan banyaknya teknik-teknik yang ditemukan dan terus berusaha ditingkatkan efektifitasnya. Meskipun begitu, pendekatan psikoterapi yang saat ini menjadi dasar dan mendominasi adalah pendekatan psikodinamika, behavioral dan humanistic. Tiga pendekatan utama ini tidak hanya berbeda dalam penerapan teknik semata, tetapi juga berbeda dalam konsep mereka mengenai perkembangan kepribadian dan psikopatologi.

1.      Psikodinamika
Psikodinamika merupakan pendekatan psikoterapi yang dicetuskan oleh Sigmund Freud. Phares dan Trull (2001, dalam Ardani, dkk, 2007), menyatakan bahwa pendekatan terapi psikodinamika memfokuskan pada motif-motif ketidaksadaran dan konflik-konflik dalam mencari akar perilaku. Pendekatan psikodinamika cenderung fokus pada analisis pengalaman masa lalu. Sasaran terapi dari psikodinamika adalah untuk membantu motif-motif yang tidak disadari dalam diri seseorang menjadi disadari, karena hanya dengan menyadari motif-motif dalam dirinyalah individu dapat melakukan pilihan.
Bicara mengenai psikodinamika maka kita harus memahami sebelumnya mengenai struktur kepribadian menurut pandangan psikodinamik. Menurut Freud, kepribadian tersusun dari 3 komponen pokok, id, ego dan superego. Id adalah aspek biologis manusia yang berada di dalam dunia batin manusia. Id adalah insting dasar manusia yang berfungsi dengan asas menghindari ketidaknyamanan dan mengejar kenikmatan (pleasure principle). Ego adalah aspek psikologis dalam kepribadian yang timbul untuk mengontrol serta menentukan cara yang masuk akal dalam pemenuhan kebutuhan id. Ego ada untuk menjadi perantara kebutuhan instingtif id dan kebutuhan manusia untuk tetap berhubungan baik dengan kenyataan. Super ego adalah aspek moral yang yang berperan dalam mengendalikan naluri dari id agar bisa disalurkan dalam cara yang diterima oleh masyarakat serta mengarahkan ego pada tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai tradisional atau cita-cita masyarakat.
Psikoanalisa memandang jika setiap psikopatologi yang terjadi merupakan akibat dari adanya konflik antara sistem id, ego, dan super ego. Beberapa teknik yang biasanya digunakan oleh psikoanalisa adalah dengan asosiasi bebas, analisa mimpi, dan transferens. Asosiasi bebas adalah teknik dimana klien harus mengungkapkan segala yang muncul dipikirannya, apapun itu, terutama ketika mengingat mengenai pengalaman masa lalu klien tersebut. Ingatan-ingatan tersebut seringkali memberikan petunjuk mengenai susunan kepribadian dan perkembangan seseorang. Analisa mimpi adalah teknik untuk memahami makna simbolik dari mimpi seseorang karena mimpi dianggap suatu cara memenuhi keinginan yang tidak dapat diungkapkan. Transferens, merupakan proses dimana klien beraksi terhadap terapis seolah-olah terapis adalah figur penting yang ada dalam masa lalu klien.

2.      Pendekatan Behavior dan Cognitive Behavior
Pendekatan behavior dan cognitive behavior atau yang dikenal dengan behavior therapy merupakan terapi perilaku yang didasari dari pandangan aliran behaviorisme. Orang-orang behavioris menitikberatkan pada pengaruh lingkungan sebagai faktor utama yang mempengaruhi proses belajar seseorang. Terapi perilaku ini sendiri sulit untuk didefinisikan karena adanya beberapa pendekatan perilaku sendiri yang berbeda dalam model terapi ini.
Beberapa teknik perilaku yang digunakan oleh pendekatan behavioral adalah teknik relaksasi, hirarki kecemasan, exposure therapy, modeling, dan CBT (cognitive behavior therapy). Teknik CBT sendiri merupakan percampuran dari teknik perubahan perilaku dengan perubahan peran kognisi dalam diri seseorang. Hal ini didasari dari perspektif kognitif bahwa kognisi seseorang merupakan penyebab dan pemelihara berlanjutnya suatu masalah. Oleh karena itu terapi ini berfokus untuk merubah kognitif klien terlebih dahulu lalu merubah perilaku yang bermasalah. CBT dipandang sebagai intervensi klinis yang paling efektif hingga saat ini.

3.      Psikoterapi Humanistik – Eksistensial
Pendekatan humanistik merupakan pendekatan yang bermula dari protes terhadap pendekatan yang telah ada sebelumnya yang membatasi dan memaksa fungsi manusia. Pendekatan humanistik memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki tujuan dan mampu menentukan pilihannya sendiri. Tujuan terapi dalam pendekatan humanistik adalah untuk memaksimalkan potensi diri klien untuk berkembang dan memperoleh kebahagiaan.
Ada tiga pendekatan psikoterapi utama dalam pendekatan ini, yaitu psikoterapi client-centered Rogers, logoterapi Frankl, dan terapi Gestalt oleh Perls. Psikoterapi client-centered merupakan teknik konseling yang fokus utamanya adalah untuk memberikan perhatian dan membantu klien untuk menetapkan dan memutuskan tujuan terapi. Konseling dalam terapi ini menitikberatkan pada sikap seorang terapis untuk membantu klien dibandingkan dengan pengetahuan dan penguasaan tekniknya.
Logoterapi adalah bentuk terapi eksistensialisme dimana teknik ini mendorong klien untuk menemukan arti dalam suatu hal atau peristiwa yang sepertinya tidak memiliki makna. Penekanan logoterapi adalah tidak hanya melihat peristiwa yang terjadi di masa lampau semata, tetapi lebih menitikberatkan pada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana melihat masa depan. Terapi Gestalt adalah terapi yang memfokuskan pada pengalaman saat ini dan kesadaran yang segera terhadap emosi dan tindakan. Terapi Gestalt memiliki konsep bahwa individu harus mengembangkan kesadaran tidak hanya mengenai diri mereka sendiri tetapi juga cara dimana mereka menolak diri mereka sendiri.
.
F.      Macam-macan Psikoterapi berdasarkan subjek
Teknik dalam melakukan psikoterapi, seringkali dapat dibedakan berdasar jumlah subjek dan kedudukan peran subjek, meskipun dalam tiap sesi-nya dapat saja masing-masing subjek mendapat penugasan atau sesi terpisah.
a.       Individual
 tujuan dalam terapi ini murni untuk kepentingan satu orang klien.
b.      Pasangan/ Couple
c.        ering dikenali sebagai Marital Therapy, yang bertujuan memahami dan memperbaiki interaksi dalam suatu hubungan yang lebih intim.
d.      Kelompok
Bukan sekedar terapi yang diberikan pada sekelompok individu. Diperkenalkan oleh Joseph Pratt (Boston) sejak awal tahun 90’an.
Memiliki tujuan memperbaiki kemampuan seseorang dalam bidang tertentu, melalui interaksi dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan problem.
Standar dalam terapi kelompok:
a)      Berbagi informasi
b)      Mengembangkan harapan positif
c)      Kebersamaa
d)     Saling membantu (altruism) à makna hidup
e)      Pembelajaran interpersonal
f)       Kekeluargaan
g)      Kohesif à meningkatkan kepercayaan diri klien
e.        Keluarga
Bertujuan mengubah pola interaksi antar anggota keluarga untuk memperbaiki masalah dalam keluarga tersebut.






C.          ALUR UMUM DALAM  INTERVENSI KLINIS
1.      Pertemuan awal
Identifikasi klien, simtom, dan keluhan
2.      Assessment
Menggali data/ info sesuai tujuan kedatangan klien. Metode: observasi, interviu, tes, dokumentasi
3.      Tujuan Intervensi
dilakukan setelah integrasi data assessment,ditentukan bersama klien/ pihak terkait.
4.      Implementasi Terapi
Mirip dengan kontrak kerja/ sosialisasi program (membicarakan: waktu, sasaran, tujuan program).
5.      Pelaksanaan
penggunaan teknik-teknik intervensi tertentu. Perlu memperhatikan skill klinisi dalam melakukan intervensi
6.       Evaluasi
Terhadap pencapaian, program, & rencana tindak lanjut. Biasanya berbentuk research based on cases.

 KESIMPULAN
Itervensi Psikologi Klinis dalah upaya untuk merubah perilaku, pikiran dan perasaan seseorang. Intervensi tidak hanya dilakukan oleh psikolog dan dapat digunakan dalam berbagai bidang. Salah satu intervensi dalam konteks hubungan professional antara psikolog dan pasien adalah psikoterapi. Bentuk-bentuk intervensi klinis diantaranya adalah rehabilitasi psikososial,intervensi preventif dan psikoterapi.
Dalam Psikoterapi terdapat tiga pendekatan utama yaitu psikodinamika,pendekatan Behavior dan cognitive Behavior ,dan terakhir adalah Psikoterapi Humanistik-Eksistensial, yang berbeda dalam konsep mengenai perkembangan kepribadian dan psikopatologi . Alur umun dalam Intervensi Psikologi Klinis meliputi pertemuan awal,assessment,tujuan dari intervensi,implementasi terapi,pelaksanan,dan evaluasi.


8 comments:

  1. sama", senang bisa membantu.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih, sangat membantu... Tapi punten, boleh tau sumbernya darimana aja gak? boleh disertakan referensinya, gitu? Nuhun :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teh Yeni Sartika, punten, mau minta sumber aslinya yaa... Nuhun...

      Delete
  3. saya kurang setuju, khusus untuk intervensi klinis hanya bisa dilakukan oleh profesi psikolog. perlu digaris bawahi

    ReplyDelete